"Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu
najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini,"
(QS. At-Taubah: 28)
Kenajisan
orang musyrik ini memang bukan najis 'aini, sehingga jasad orang
musyrik pada dasarnya tetap suci, bahkan bekas minum mereka pun tidak
najis. Namun kenajisan mereka adalah najis secara maknawi.
2. Batas Tanah Haram
Sedangkan
batas tanah haram yang berlaku semua ketentuan mengenai tanah haram itu
adalah batas miqat makani sebagaimana yang berlaku buat jamaah haji.
Maka para batas-batas miqat itulah seorang non muslim sudah tidak boleh
lagi masuk ke dalamnya.
Di
sebelah timur ada Dzatu 'Irqin, yaitu batas orang yang masuk dari arah
negeri Iraq. Beralih ke Selatan masih di timur ada Qarnul Manazil.
Paling selatan, iaitu dari arah negeri Yaman, ada Yalamlam. Sedangkan
dari arah utara, beberapa kilometer dari Kota Madinah, ada Bi'ru Ali,
atau disebut juga dengan Dzil Hilaifah. Di sebelah Barat ada Juhfah atau
disebut juga Rabigh. Maka kota Makkah seluruhnya tentu saja termasuk
kawasan tanah haram. Artinya, orang kafir tidak boleh masuk wilayah ini.
3. Syarat Berkaitan dengan Wilayah Al-Haram
Selain tidak boleh dimasuki oleh non muslim, tanah Al-Haram di Makkah juga mempunyai ketentuan-ketentuan lainnya, antara lain:
1.
Solat di wilayah Al-Haram Makkah akan dibalas dengan pahala yang
berlipat ganda, iaitu 100,000 kali. Hal itu sebagaimana yang ditetapkan
oleh Baginda Rasulullah SAW:
Dari
Jabir radhiallahu'anhu sesunggunya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Solat di masjidku, lebih utama seribu kali
(berbanding) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan sembahyang
di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu (berbanding) shalat di
selainnya. "(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, no. 1406. Hadits dishahihkan oleh
Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata:" Sanadnya shahih sesuai
syarat Bukhari dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).
2.
Tidak ada larangan untuk melakukan solat pada bila-bila pun, bahkan
termasuk pada waktu-waktu yang sebenarnya haram untuk melakukan solat.
Seperti pada saat matahari terbit, terbenam atau pas di atas kepala.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
Daripada
Jubair bin Muth'im bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda: "Wahai Bani Abdi Manaf [1], janganlah kalian melarang
seoranpun yang akan thawaf (mengelilingi tujuh kali) sekitar Ka'bah, dan
seorang yang akan menunaikan solat pada waktu malam atau siang , "(HR
Abu Daud dan Nasa'i, dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dan di shahihkan
al-Albani).
3. Haram Membawa Senjata
Di tanah Haram Makkah, haram hukumnya membawa senjata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Dari
Jabir bin Abdillah Radhiyallahuanhu, ia berkata: saya mendengar
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak dibenarkan bagi
kalian membawa senjata [2] di Makkah," (HR Muslim).
4. Haram Menumpahkan Darah (Pembunuhan) dan Mematahkan Tumbuhan
"...
.maka Sejak itu (negeri Makkah) haram dengan keharaman Allah hingga
hari kiamat, duri-durinya tidak boleh dipatahkan, binatang buruannya
tidak boleh di usir (diganggu), barang yang jatuh di Makkah tidak boleh
diambil, kecuali untuk mencari (pemiliknya) , tumbuh-tumbuhannya tidak
boleh ditebang ... .., "(HR Bukhari dan Muslim)
Seluruh
umat islam diperintah untuk memalingkan wajahnya dan hatinya kearah
masjidil haram di mana-mana berada, hal ini di perkuat dengan surah
al-Baqarah ayat 149 dan 150. Perintah ini hampir sama darjatnya dengan
perintah Allah yang lain seperti hal melakukan solat, zakat, puasa, haji
sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal
duniawi ini.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT berikut ini:
"Dan
dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah
Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak
dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu
kerjakan, "(QS.al-Baqarah: 149)
"Dan
dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah
Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka
palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas
kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah
kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar
Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk,
"(QS.al-Baqarah: 150) [3]
Keterangan:
[1]
Rasulullah mengkhususkan sabdanya ini kepada Bani Abdi Manaf kerana
beliau mengetahui bahawa pemerintahan dan kekuasaan di Makkah kembali
pada mereka, kerana mereka adalah pemimpin-pemimpin Makkah, dan
urusan-urusan dalam haji (menjamu jemaah haji dengan memberikan minum,
makanan, keselamatan) mereka yang melakukannya. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi
bi Syarh Jami Tirmizi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M - 1415 H, hal 531
juz 3, pen).
[2]
Larangan ini jika tidak ada hajat keperluan membawa senjata, jika ada
hajatnya maka dibenarkan. (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi, hal 130-131,
juz 9 jilid ke 5 cetakan Daarul fikr, pen).
[3]
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 150)
sehubungan dengan peristiwa berikut: Ketika Nabi SAW memindahkan arah
kiblat dari Baitul Maqdis ke Kaabah, kaum Musyrikin Mekah berkata:
"Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah qiblatnya ke
arah qiblat kita. Ia mengetahui bahawa jalan kita lebih benar daripada
jalannya. Dan ia sudah hamir masuk agama kita. "(Diriwayatkan oleh Ibnu
Jarir yang bersumber dari as-Suddi melalui sanad-sanadnya)
0 komentar:
Posting Komentar